Wanita - Wanita Pahlawan

Remuk tulangmu tak kau hiraukan,

biar terik menghujam - hujam kulit halusmu.

Malang oh malang!

Celotehan bangsawan cendikiawan melihat putri manis yang dulu.

 

Air mukamu tak seanggun masa lalu,

Paras mewahmu diletakkan jauh - jauh.

Jika segenggam beras kau dapati dahulu,

dayung pulang baru kau kayuh.

 

Bukan untuk kau, putri!

Bukan untuk ragamu.

Kepada penerusmu engkau persembahkan suri.

 

Tanya menanya mengebul di awan,

logika seorang fana takkan sampai pikiran.

Ada kerbau dicucuk tanpa paksaan,

tanpa tangisan.

Hati tulus dipersembahkan untuk kesayangan.

 

Rela kau taruh aspal pada wajahmu,

demi seduit pun kau lakukan.

Agar buah hati tak menangis minta - minta,

meski lakonnya balas menyayatimu.

 

Satu bait tak pernah keluar, takkan pernah keluar!

Agar budimu tahu diri dibalas.

Malah panjatan doa pada Kuasa terdengar,

di tiap purnama tak satupun terlepas.

 

Hormat bakti penerus bagimu,

O para wanita - wanita pahlawan, utusan khayangan.

Tak heran batin ini rela mencium kakimu,

tempat surga menyiratkan bayangan.