To Amazing Friend

Wandy Darmawan adalah salah satu orang jenius yang pernah saya temui secara langsung. Well, saya tidak mengada - ngada. Saya berbicara sejujurnya dan saya akan menceritakan mengapa saya bisa berkata demikian. Saya mengenal dia sejak duduk di bangku SMP. Sudah cukup lama, tapi harus saya akui saya tidak begitu kenal dekat dengan dia. Tapi pembawaannya yang asik, dia membuat semua orang sangat nyaman dengan dia dan ingin berteman dengan dia. Sepanjang pengetahuan saya, dia tidak memiliki musuh. Dia orang yang sangat baik dan mengaku salah apabila dia melakukan kesalahan. Bahkan dia tidak segan untuk mengalah untuk menghindari pertengkaran. Dia orang yang sangat baik dan saya percaya semua teman lainnya juga setuju dengan saya.

Salah satu hal yang unik, dia adalah salah satu orang yang mendapatkan skor tertinggi untuk tes IQ di angkatan kami ketika SMA. Saya ingat sekali. Bahkan ada keraguan beserta candaan dari beberapa guru dan juga teman - temannya. Saya ingat sekali itu karena posisi tempat duduk dia di depan saya ketika di kelas. Namun kami percaya bahwa dia mengerjakan setiap soal tes IQ dengan jujur. Maka kami berpendapat bahwa dia sebenarnya sangat pintar namun malas. Wajar, dia bukanlah teman yang memiliki ranking tinggi dan tidak pernah mau aktif di kegiatan apapun. Dia cenderung pasif. Tapi yang paling tidak bisa saya lupa adalah betapa uniknya ketika dia mulai bercerita. Rasanya kami seperti terbawa oleh alur ceritanya dan seakan mengalami kejadian yang dia ceritakan. Ya, dia seorang pencerita yang sangat baik. Dan saya percaya ini adalah talenta. Terbukti, beberapa tahun kemudian dia dikenal sebagai marketer dan negosiator yang ulung.

Ketika lulus SMA, saya dan dia pergi ke sekolah tinggi yang sama. Bahkan saya pergi tes masuk bersama dengan dia dan beberapa kali kita sempat pergi ke tempat kuliah bersama. Namun ketika semester tiga, saya mulai jarang berkomunikasi dengan dia karena kami beda jurusan dan jam kelas. 

Semua yang saya katakan diatas tidak pernah membuat saya berpikir bahwa dia adalah orang yang sangat hebat dan jenius. Sampai pada satu ketika, tepatnya bulan Januari tahun 2015 yang lalu dia menghubungi saya untuk bertemu. Akhirnya bertemulah kami di seven eleven dekat rumah, karena rumah saya dan dia tidak begitu jauh. Itu hari Sabtu pagi jam 9 dan sedikit gerimis. Semua detail masih membekas di pikiran saya. Dia naik motor pergi kesana. Saat itu kami memulai pembicaraan untuk hanya sekedar mengetahui kabar, karena kami sudah tidak pernah ngobrol setelah sekian lama. Dia pun menceritakan banyak hal tentang kehidupannya dengan seru seperti biasanya. Hingga ada satu cerita yang membuat saya tertawa dan salut dengan dia. 

Dia tanya ke saya berapa nilai skripsi saya. Saya memberitahu dia bahwa saya mendapatkan nilai A-. Dan dia berkata dia juga mendapatkan nilai yang sama tapi dia menolak nilai itu. Di hadapan panelis saat sidang skripsi, para dosen memberikan dia nilai A- dan mewajibkan dia untuk merevisi sebagian kekurangan yang ada di skripsi dia. Dia menolak nilai itu dan hanya meminta nilai B+. Mau tau alasannya? Dia minta nilai B+ hanya karena tidak mau repot untuk revisi. Karena ketentuan di kampus kami, nilai A saja yang diwajibkan untuk revisi sedangkan B atau C tidak. Akhirnya panelis merestui permintaan dia dan dia lulus dari kampus dengan nilai skripsi B+. Saya tertawa hebat saat itu dan mengacungkan dua jempol untuknya saat itu. Namun, ketika pulang saya menyadari beberapa hal yang membuat saya malah kagum dengannya. Karena dia telah mengajarkan banyak hal melalui keputusan dia itu. Satu, dia menganggap bahwa nilai tidak begitu penting karena itu hanya huruf yang terpampang di atas kertas. Kedua, dia tidak perlu membuang waktunya untuk melakukan revisi skripsi yang telah dia kuasai. Dia mengajarkan saya bahwa kita harus lebih melihat kepada esensi daripada apa yang dilihat orang. Dia juga dikenal sebagai orang yang sederhana yang tidak pernah mau membeli barang mahal meskipun dia punya uang. Tujuan dia hanya satu. Membahagiakan kedua orang tuanya kelak. Dia mengatakan hal itu dan itu membuat saya tersentuh.

Dia pun lanjut bercerita bahwa sekarang dia membantu ayahnya dalam menjalankan bisnis sablon. Dan dia mengajak saya untuk membangun bisnis percetakan. Satu bidang yang dulu saya kerjakan tapi sudah lama tidak saya sentuh. Saat itu, saya menerima dengan ragu karena saya memiliki bisnis lainnya yang harus saya bangun, namun saya memberikan nomor semua koneksi saya untuk dia mengembangkan bisnisnya. Dan ternyata jalan. Saya mendengar kabar dari partner saya bahwa dia adalah orang yang sangat rajin dan ada kemauan untuk menjalankan bisnis sendiri. Pada bulan Maret, saya mendapatkan sebuah proyek besar dan saya memberikan bagian percetakan untuk dipegang oleh dia. Dan hasilnya memuaskan. Bahkan dia pernah datang subuh ke rumah saya untuk mengantarkan barang yang saya minta. Dia seorang yang luar biasa tanggung jawab.

Hari ini, tanggal 23 Februari 2016, saya mendapatkan chat dari seorang teman bahwa dia semakin parah keadaannya. Dia sudah mulai sakit radang otak sejak 2 bulan yang lalu. Pada sore hari, hati saya sangat gelisah dan tidak tenang. Seakan ada yang berbicara bahwa saya harus pergi mengunjungi dia saat itu juga. Akhirnya saya pergi ke rumah sakit secara mendadak dan tidak sempat mengajak teman siapapun. Saya sampai pukul 6 sore kurang. Ketika sampai, saya langsung melihat papa, mama, adik, paman dan bibinya duduk dan menangis keras. Saya masih tidak menyangka apapun saat itu. Saya menenangkan papa mamanya sambil bertanya kepada adiknya apa yang dikatakan dokter. Adiknya tidak berkata banyak dan langsung mengajak saya ke suatu ruangan. Di lorong itu ada kasur dan diatasnya ada orang yang sudah ditutup dengan kain tanda dia sudah meninggal. Saya langsung masuk dan bertanya dengan satpam yang berjaga apakah itu Wandy, dan dia mengiyakan. Kaki saya lemas, tangan bergetar hebat dan saya memberanikan diri untuk melihat wajah teman saya. Dan saya sangat menyesal karena saya datang terlambat 15 menit sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Saya langsung menutup kain itu kembali dan memberikan kabar ke teman yang lain. Saya tidak bisa beranjak dari dia. Saya duduk di samping dia. 15 menit kemudian saya keluar dan menghibur keluarganya yang masih shock. Akhirnya saya menemani mereka dan bersama mengantarkan Wandy ke rumah duka. 

Wandy Darmawan bukan saja seorang partner kerja yang sangat baik. Tapi dia juga seorang penasihat yang hebat. Dia memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik dari orang kebanyakan. Semua masalah yang rumit dan sangat buntu bagi saya dipecahkannya dengan sangat mudah. Oleh karena itu, saya suka ngobrol dan bercerita masalah saya kepada dia untuk mendapatkan solusi. Dia orang yang sangat berpikir simple dan random. Dan itu membuat dia seorang yang sangat jenius buat saya. 

Orang jenius tidak diukur dari berapa prestasimu, berapa tinggi nilaimu, berapa banyak capaian yang telah kamu raih. Jenius itu adalah bagaimana kamu bisa memecahkan masalah yang sangat rumit dan hampir tidak dapat dipecahkan sekalipun dengan pemikiran dan jalan keluar yang sangat simple. Wandy Darmawan adalah satu - satunya orang yang saya kenal yang bisa berpikir seperti itu. Saya bukan saja kehilangan seorang teman yang baik tapi seorang penasihat ulung yang mampu membawa saya ke jalan keluar dan solusi yang terbaik.

Saya tidak mau mengatakan good bye karena pada dasarnya kita hanya berpisah sementara. Til we meet again, pal!

Ricco Nicholas