Perumpamaan Talenta

Matius 25:14-30

Ada tiga hal yang dapat kita pelajari:

- Keadilan

- Tanggung Jawab

- Memenuhi kehendak Tuhan bukan memperkaya diri sendiri

Keadilan

Pada ayat ke 14 - 15

Banyak yang berkata bahwa keadilan adalah barang langka di dunia saat ini. Kita tidak jarang melihat banyak sekali orang yang mencari - cari keadilan dimana - mana untuk memperjuangkan nasib mereka. Namun, apa arti keadilan menurut Tuhan?

Sang tuan memberikan talenta yang besarnya menurut dengan kesanggupan hambanya masing - masing. Saya percaya bahwa si tuan pasti memberikan kepada mereka langsung berbarengan sehingga mereka tahu mereka dapat berapa dan yang lain dapat berapa. Itu yang menyebabkan kenapa si yang dapat satu protes dan kesal sehingga tidak mau mengembangkan talentanya. Dikatakan di ayat ini, mereka dibagi menurut kesanggupannya. Ini yang disebut dengan adil. Adil bukan sama rata. Adil itu dilihat dari kapasitas kita. Contoh: Seorang presiden pada satu negara berjanji akan memberikan kendaraan pribadi kepada rakyatnya. Tapi syaratnya, apa yang diberikan tidak bisa dalam bentuk uang dan tidak boleh dijual untuk diuangkan. Melainkan harus digunakan untuk menambah produktivitas. Adapun di negara itu ada tiga rakyat. Satu tinggal di komplek perumahan, satu tinggal di gang kecil, satu tinggal di kolong jembatan. Si presiden tidak mungkin memberikan mobil kepada ketiganya karena yang lain pasti tidak membutuhkan dan bahkan mereka tidak tahu harus parkir dimana. Mungkin si presiden akan memberikan yang tinggal di komplek sebuah mobil, yang tinggal di gang sebuah motor dan yang tinggal di pinggiran sebuah sepeda. Mereka tidak bisa protes. Kenapa? Si presiden tidak bisa memberikan bukan karena dia tidak bisa, tapi karena yang dua lainnya belum siap menerima. 

Terkadang kita meminta kepada Tuhan dan berdoa setiap hari apa yang menjadi keinginan kita. Tapi kita lupa melihat kapasitas kita baik fisik maupun hati kita. Keadilan di mata manusia jauh berbeda dengan keadilan di mata Allah. Keadilan di mata Allah sangat bijak dan mutlak. Dicatat di alkitab dengan jelas bahwa masing - masing menurut kesanggupannya. Dan ini adalah pengertian adil yang bukan berasal dari dunia. Kita tidak ada hak untuk memprotes kepada Allah atas nasib kita. Kita tidak pernah punya otoritas yang melampaui Allah sehingga menganggap bahwa Tuhan tidak adil. Terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang menjadi keinginanmu, karena engkau memang belum siap. Engkau bahkan belum bisa memaksimalkan potensi dan sumber daya yang engkau miliki saat ini. Keadilan Tuhan adalah sesuatu yang sulit dimengerti manusia yang jauh dari dia. 

 

Tanggung Jawab

Pada ayat ke 16 - 18

Para hamba telah menerima talenta yang diberikan. Mereka menerima tanggung jawab itu. Tugas itu telah ada di tangan mereka. Jika kita perhatikan, tidak dicatat satu kata pun di ayat ini dimana para hambanya dituntut untuk mengembangkan talenta yang ada padanya. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh hamba dengan satu talenta tidak menyalahi aturan karena memang tidak ada tugasnya. Tapi bersyukur bahwa Yesus memakai perumpamaan ini untuk memperingati kita manusia - manusia yang tidak ada inisiatif sama seperti hamba dengan satu talenta. 

Kita melihat bahwa kedua hamba dengan 5 dan 2 talenta dengan segera peri dan menjalankan yang itu lalu beroleh laba. Mereka tidak diminta. Mereka tidak disuruh. Mereka tidak diperintah apapun. Tapi mereka menjalankannya. Kenapa? Karena mereka melayani dari kelimpahan! Mereka sudah menerima anugerah yaitu menerima talenta itu. Mereka menganggap diri tidak layak mendapatkannya, tapi tuannya memberikan mereka tanggung jawab khusus. Saya percaya mungkin ada beberapa pelayan lain yang dimiliki tuannya. Tapi hanya mereka bertiga yang diberikan kepercayaan talenta. Mereka merasa ini adalah tanggung jawab besar sebuah anugerah tak terkira yang bisa mereka dapatkan sebagai seorang hamba. 

Kasus ini sama seperti kita di kehidupan sekarang. Kita diberikan kepercayaan oleh Tuhan kita sebuah pekerjaan, sebuah bisnis, sebuah kesempatan. Tapi terkadang kita sama seperti hamba satu talenta bukan? Kita menggerutu. Kita protes karena mungkin bisnis kita tidak sebaik orang lain. Kita tidak memiliki modal sama seperti orang lain. Kita tidak memiliki orang tua atau kerabat yang bisa mendukung apa yang kita lakukan. Dan ribuan alasan lain yang membuat kita tidak bergerak. Dan apa yang dipercayakan oleh Tuhan malah akan mati dimakan usia. Tidak berkembang karena kita menghabiskan waktu kita hanya komplain dan menggerutu. Akhirnya kita hanya menjaga bukan memelihara dan mengusahakannya!

Inilah jebakan bagi kebanyakan dari kita. Kita menganggap bahwa apa yang diberikan oleh Tuhan hanya patut untuk kita jaga. Hanya perlu kita pantau supaya tetap ada disana. Harus terus kita sembunyikan dan berusaha agar tidak ada orang yang curi dari kita. Tapi kita tidak pernah terpikir untuk mengusahakannya. Memberikan yang terbaik dari diri kita untuk menjadikan itu lebih supaya sang tuan disenangkan. 

Saya berpikir apa yang menyebabkan kedua hamba yang lain segera pergi dan melipat gandakan talentanya? Mengapa mereka mau mengusahakan tanpa ada menyuruh atau memerintah? Jawabannya adalah mereka melayani dari kelimpahan. Mereka sudah tahu bahwa mereka tidak layak mendapatkannya. Ini bukan hasil hoki atau keberuntungan. Ini bukan hanya sebuah durian runtuh. Tapi ini adalah anugerah Tuhan. Ini bukan kebetulan. Dengan mental seperti ini, TIDAK MUNGKIN kita tidak mengusahakan apa yang ada di tangan kita. Tidak mungkin. Karena kita pasti mengerjakan apa yang kita miliki dengan ucapan syukur dan tanggung jawab. Supaya ketika kita kembali pada dia, kita bisa mempersembahkan yang terbaik kepada dia sebagai ungkapan rasa terima kasih. Bukan untuk menunjukkan kepada dia bahwa kita berhasil, tapi karena kita ingin mempersembahkan kepada dia yang terbaik karena dia yang lebih dulu mempercayakan yang terbaik untuk kita meskipun kita tidak layak. Di ayat ini, kita ditegur untuk mengerjakan segala sesuatu dengan tanggung jawab dan tidak bersungut - sungut. 

 

Memenuhi panggilan dan bukan untuk memperkaya diri sendiri

Pada ayat ke 19 - 30

Ayat 19 jelas dikatakan bahwa sang tuan akhirnya kembali untuk mengadakan perhitungan. Ini pasti membuat si hamba satu talenta panik. Karena dia tidak tahu prinsip ini. Tapi coba perhatikan kedua hamba lainnya. Mereka kembali dan mempersembahkan seluruh talenta yang mereka punya. Bukan saja apa yang mereka terima sebelumnya, tapi juga beserta laba mereka! Ini konsep bisnis kerajaan Allah. Dia tidak berkata bahwa Tuhan menerima modalnya saja, tapi dia adalah si empunya seluruh uang itu. Ini yang patut kita perhatikan dan tanamkan di pikiran kita bahwa: Kita bukan pemilik! Kita hanya pengelola. Ini yang banyak dilupakan oleh para pebisnis atau pekerja. Kita menganggap bahwa seluruh harta di dunia adalah milik kita. Itu yang menyebabkan banyak orang yang ketika sukses menjadi sombong, tinggi hati dan menganggap segala sesuatu yang mereka miliki adalah hasil usaha mereka sendiri. Padahal jelas disini digambarkan bahwa kita hanyalah pengelola modal dan harus mengembalikan kepada Tuhan. 

Itulah panggilan. Hidup kita bukan milik kita sendiri tapi milik Tuhan. Tuhan memiliki hak penuh atas apapun yang ada dalam hidup kita. Jadi kita bergantung penuh kepada dia. Seperti yang saya katakan diatas, kedua hamba itu tidak mengembangkan talenta yang mereka miliki untuk memperkaya diri sendiri, melainkan sebagai bentuk ucapan syukur atas apa yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Kita yang tidak layak namun masih dia pilih untuk dipercayakan sesuatu yang besar. Oleh karena itu, kita harus sadar penuh posisi kita dan sikap hati kita ketika kita menerima berkat Tuhan. 

Tapi saya beryukur bahwa Tuhan saya adalah Tuhan yang tidak serakah. Dia mengasihi hamba - hambanya yang setia. Dia memberikan kita sebuah hadiah yang jauh lebih berharga dari talenta, yaitu masuk ke dalam rumahnya dan berbahagia bersama dengan dia. Bukankah itu hal yang jauh lebih berharga dari apapun? Bersama dengan dia ketika kita pulang bertemu dengannya dan dia mendapati kita setia. Saya percaya bahwa Tuhan saya adalah Tuhan yang memelihara dan saya tidak perlu kuatir. Yang saya perlu lakukan adalah senantiasa menjaga hati saya bersama dengan dia dan mengerjakan tanggung jawab dan anugerah yang telah dia berikan pada saya. 

Saya ada pertanyaan unik lainnya. Apakah kedua hamba itu tidak pernah memakai laba dari talenta yang mereka hasilkan? Tentu saja iya. Saya percaya mereka menghasilkan lebih sedikit dari laba yang mereka berikan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari - hari. Apakah si empunya 5 talenta bisa memberikan laba hanya 3 talenta dan 2 talenta lainnya dipakai untuk dirinya sendiri? Saya rasa bisa. Poinnya disini bukan pada jumlah, namun pada sikap hati kita dan motivasi kita. Kekayaan tidak akan pernah berhenti dan akan terus menerus bisa kita kejar. Tapi Tuhan melihat ketika kita bisa berkata CUKUP. Kecukupan adalah kelimpahan yang sejati. Ketika kita merasa cukup pada satu hal, kita akan rela mempersembahkan seluruhnya untuk Tuhan. Mempersembahkan diri itu berarti kita tidak kuatir karena kita percaya Tuhan memelihara kita. 

Ricco Nicholas