Pengakuan

Sesak ini tak terkira

Walaupun masih ada jutaan partikel udara

Kukira ini hanyalah khayalanku saja 

Ternyata hati telah mati rasa

 

Logika berkata masih ada kesempatan kedua

Meski memori menentang dengan kerasnya

 

Baru sadar aku akan perkataan bunda

Karna nila setitik rusak susu sebelangga

 

Pengetahuan dangkalku menutup mata

Bahwasanya nila bisa pergi dengan doa

Ku tak peduli lagi apa kata orang

Biarlah aku tenggelam dalam karang

 

Tak lagi ku mau masuk padanya, 

Tergoda olehnya.

 

Lebih baik kupergi dibanding melihat air mata itu mengalir dari wajah lainnya.

Memulai fajar baru tanpa beban darinya.