Mengapa Ahok tidak mundur saja?

Pertanyaan itu selalu ada di benak saya akhir - akhir ini. Desakan demi desakan dilayangkan kepada seorang manusia super bernama ahok. Sejak kata sambutannya di kepulauan seribu itu, dia menjadi sorotan publik. Tidak hanya di Indonesia, tetapi hingga merebut perhatian dunia internasional. Ini saya alami sendiri ketika saya naik taksi di luar negeri, para supir pasti membicarakan ahok ketika mengetahui saya berasal dari Indonesia. Well, saya bukan pendukung setia ahok karena saya tahu beliau adalah manusia biasa yang juga ada kekurangan. Di artikel sebelumnya saya juga ikut memperjuangkan beliau, yang saat itu tidak ada partai politik, untuk maju sebagai independen. Bukan karena dia satu ras atau satu agama dengan saya, tetapi karena saya mau keadilan ditegakkan di negara ini. Bahwa orang yang bagus kerjanya untuk rakyat, harus bisa maju kembali di pilkada, meskipun tanpa partai politik, untuk dapat bisa bersaing dengan kandidat yang bagus lainnya. Menurut saya lucu jika orang yang bagus malah tidak bisa maju hanya karena tidak ada ‘kendaraan’. Ketika Ahok akhirnya memilih menggunakan partai politik, saya menghargai keputusan beliau karena memang itu adalah hak dia. Saat ini saya masih dalam tahap belum memilih, karena saya masih ingin melihat proses kampanye ketiga pasang calon yang sekarang bersaing secara objektif. Saya adalah pengagum Anies Baswedan dari sejak lama. Bahkan saya lebih mendukung dia maju dalam pemilu presiden yang lalu berpasangan dengan Gita Wirjawan, orang yang saya kagumi juga. Saya juga menelusuri rekam jejak seorang Agus Yudhoyono, dan betapa kagumnya saya ketika melihat kemampuan akademisnya yang sulit diraih kebanyakan orang. Bagi saya, pilkada saat ini adalah pilkada yang paling seru karena diisi oleh orang - orang yang benar - benar pantas duduk dalam memimpin Jakarta. Dan dalam tulisan ini saya ingin menggambarkan sisi pandang saya sebagai orang yang melihat Ahok, juga dalam sudut pandang objektif. 

Saya harus mengajak anda untuk masuk ke dalam pola pikir saya dulu sebelum saya membahas kasus dia dalam kacamata saya. Dalam pola pikir saya, setiap orang berhak untuk melakukan penafsiran, dan yang namanya penafsiran, bisa salah bisa juga benar. Tapi biasanya orang yang menafsir, akan berpegang teguh sampai mati tafsirannya lah yang paling benar. Begitu juga kitab suci. Kitab suci apapun di dunia ini, pasti akan ditafsirkan oleh banyak orang untuk bisa relevan kepada apa yang dihadapinya saat ini. Tapi salut saya pada umat muslim, mereka selalu mengakhiri dakwah mereka dengan berkata bahwa sesungguhnya tafsiran mereka bisa salah karena mereka adalah manusia biasa, hanya tafsiran Allah saja lah yang mutlak. Kita bisa mengartikan bahwa mereka berkata bahwa; kita sebagai ciptaan, memiliki sudut pandang yang terlampau sempit untuk bisa menafsirkan Sang Pencipta secara sempurna. Jadi karena banyak orang yang menafsir, maka banyaklah tafsiran itu. Karena tafsiran menjadi banyak, perspektif orang akan sesuatu atau kitab suci pun menjadi beragam.

Nah, perkataan Ahok di kepulauan seribu menurut saya adalah momen dimana dia menyampaikan tafsiran berdasarkan pengalaman dia pada saat pilkada di belitung dulu, yaitu dari sudut pandang dia, yang saya cukup yakin dia juga menganggapnya benar. Darimana tafsiran Ahok itu berasal? Jika kita melihat keterangan dia pada saat pembelaan di pengadilan, dia mengatakan bahwa dia sudah bertanya kepada teman - temannya umat muslim yang taat. Dan mereka menjelaskan bahwa pemimpin yang dimaksud adalah ketika Nabi Muhammad mau dibunuh oleh sekelompok orang muslim yang juga mengajak kaum nasrani dan yahudi. Menurut tafsiran ini, maksud pemimpin tidak boleh dipilih dari kaum nasrani dan yahudi adalah dalam konteks ini. Beda lagi tafsiran Gusdur, sosok yang juga sangat saya kagumi. Jika kita melihat pidato Gusdur pada saat Ahok kampanye sebagai calon gubernur Belitung Timur, Gusdur menyampaikan tafsirannya yang cukup menarik. Beliau berkata bahwa pemimpin yang dimaksud adalah pemimpin pada waktu shalat atau pemimpin agama, bukan pemimpin negara. Ada lagi versi umat muslim lainnya yang tersinggung, yang turun ke jalan dan menuntut untuk Ahok ditangkap. Mereka punya penafsiran bahwa, yang dimaksudkan dari kata pemimpin itu adalah berlaku untuk semua pemimpin. Pemimpin agama maupun pemimpin negara atau dalam pemerintahan. Sekali lagi, saya sudah sampaikan bahwa kita harus menghormati setiap tafsiran yang ada, karena itu adalah bagian dari keyakinan mereka. 

Menurut saya yang Ahok katakan di kepulauan seribu itu tidak sepenuhnya salah. Tapi tidak perlu untuk diucapkan. Kita sudah mendengar beberapa kali dia meminta maaf bahwa dia memang tidak ada niat untuk menista agama. Dia manusia biasa yang salah bicara di tempat yang salah dan di waktu yang salah. Pada bagian ini, saya menghormati semua umat muslim yang turun ke jalan untuk memperjuangkan keyakinannya, karena itu memang adalah hak mereka. Yang saya amat sayangkan adalah proses status Ahok menjadi tersangka adalah hal yang melangkahi beberapa aturan. Tanpa melibatkan banyak proses yang seharusnya ada, Ahok langsung ditetapkan sebagai tersangka. Padahal banyak proses yang seharusnya dilalui sebelum seseroang ditetapkan sebagai tersangka. Tapi saya menghargai kinerja kapolri dan presiden yang ingin cepat tanggap dalam meredam situasi panas. Saya juga menyayangkan sikap MUI dalam kasus Ahok ini. Dari berbagai sumber yang saya ikuti dan saya baca, seharusnya ada proses dimana sang tertuduh untuk duduk dan menjelaskan apa yang terjadi dan menerima perspektif sudut pandang dari dia secara objektif. Lalu, apabila dia meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya lagi, maka sang tertuduh dimaafkan dan tidak akan dilanjutkan kepada proses hukum. Namun apabila sang tertuduh mengulanginya, atau bahkan membentuk sekte sesat yang menyimpang dari ajaran suatu agama yang diakui oleh negara, maka dia sangat bisa untuk ditetapkan sebagai penista agama dan bisa dibawa ke ranah hukum. Namun Ahok langsung ditetapkan melalui surat keputusan MUI yang menyatakan bahwa dia seorang penista agama. Saya juga menyayangkan ketidak tegasan kepolisian yang tidak menindak para pencegat dan pemprotes kehadiran Ahok di kampung mereka. Malah, pada saat pertama, Ahok yang harus lari meninggalkan tempat kampanye dengan angkot. Padahal pasangan calon dilindungi oleh undang - undang. Ini menodai kehidupan berdemokrasi di negara kita. 

Setelah banyak ‘ketidak adilan’ yang juga terjadi pada orang ini, dia masih berkata akan mengikuti proses hukum dan akan menjalaninya dengan ikhlas. Jujur kawan, jika saya jadi dia, saya sudah mundur dari beberapa bulan yang lalu. Saya tidak tahan akan banyaknya desakan, perlawanan, demo yang menginginkan saya di penjara. Saya yakin, sebetulnya jika saya tidak maju pada pilkada saja, pasti semua orang akan langsung melupakan saya dan saya tidak perlu mengikuti proses hukum yang panjang dengan resiko masuk ke dalam penjara. Jawaban atas pertanyaan, "Mengapa Ahok tidak mundur saja?” adalah karena memang dia adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menanggung beban itu, dan Ahok sangat tahu itu. Dia diberikan beban yang sangat besar karena dia punya kapasitas itu. Dia tahu dia harus menjalani setiap proses dengan baik dan bertanggung jawab. Dia tahu bahwa dia harus kuat. Dia tahu bahwa jika ia mundur, maka dia akan berkontribusi pada kegagalan berdemokrasi di negara Indonesia. 

Saya baru melihat jawaban atas pertanyaan itu ketika melihat proses pengadilan pertama yang dilangsungkan hari ini. Jika kalian melihat secara utuh, kalian akan melihat, mengapa Ahok mau menjalani proses hukum ini, mengapa dia tidak protes dan ngoyo bahwa dia benar.  Dia mengikuti persidangan bukan hanya untuk membela dirinya. Tapi juga mengedukasi masyarakat bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia hidup berdemokrasi. Kasus ini betul - betul mengangkat kita pada level berikutnya yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Di persidangan pertama ini, saya menitik beratkan pandangan saya bukan pada pembelaan dan air mata dia, tetapi lebih kepada penjelasan dia soal Surat Al Maidah 51 dan Galatia 6:10. Ayat yang sering digunakan oleh oknum - oknum politik untuk merangkul para pemilih yang seiman untuk bisa memilih dirinya dengan ayat kitab suci. Ahok tidak mengatakan bahwa hanya umat muslim yang dibodohi pakai ayat, tapi juga orang kristen sering dibodohi pakai ayat kitab suci! Bukankah memang begitu? Kebanyakan orang tionghoa dan kristen memilih Ahok hanya karena dia satu agama dan satu ras? Jujur, saya juga seperti itu dulu. Tapi Ahok memberikan pandangan lain dalam hal ini. Pilih pemimpin dari kinerjanya bukan karena agama nya, rasnya, sukunya. Karena jika begitu, dengan meminjam perkataan beliau di persidangan, kita tidak akan mendapatkan pemimpin yang baik dari yang terbaik, tapi malah yang buruk dari yang terburuk. Karena tidak semua orang yang satu agama denganmu itu tidak jahat dan tidak korup. Koruptor itu adalah orang yang tidak punya agama! Karena tidak satupun agama membenarkan hal itu. 

Air mata Ahok di persidangan pertama ini adalah bukti. Bukti bahwa dia adalah manusia biasa yang juga bisa berkata betapa beratnya beban yang dia pikul saat ini. Bukti bahwa dia juga butuh dukungan dari segenap orang yang percaya kepadanya. Saya tidak berkata bahwa Ahok pasti benar dan harus dibebaskan. Karena saya menghormati hukum dan jika memang di pengadilan nanti kita melihat bahwa memang beliau salah, maka sudah sepatutnya dia dihukum. Namun, kita juga tidak boleh lupa menggunakan asas praduga tak bersalah. 

Air mata Ahok juga adalah awal. Awal dari sebuah perjalanan edukasi bagi seluruh rakyat Indonesia untuk hidup berdemokrasi dengan benar. Ahok mau berkorban untuk menjadikan dirinya contoh bagi kita. Bahwa kamu dan saya, harus berkontribusi nyata bagi negara ini. Meskipun berat, tapi kita tetap harus melakukannya. Banyak orang melihat Ahok berkata bahwa sulit sekali bertindak jujur dalam negara ini, mustahil bisa berkarya dalam negara ini, sulit sekali membawa negara ini maju. Tapi Ahok tidak berhenti. Dia terus maju dan maju. Karena itu bukan pilihan, itu adalah kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. Ahok adalah orang yang sangat bertanggung jawab dalam hal ini. Dan untuk itu, saya memberikan hormat saya setinggi - tingginya pada orang ini.

Tetap kuat pak Ahok! Tuhan disampingmu. 

Salam.
#rebelcreatively

Ricco Nicholas