Kenangan

Dia datang tuk kemudian pergi.

Untuk apa?

Sia - sialah.

 

Yang dulu madu tekecap seperti abu.

Kini tawar, kini pahit. 

 

Masa depan bersamamu ku timbun jauh dalam tanah. 

Setelah memandang lama lalu dilepas.

Bukan melupakan, tapi tuk merelakan. 

 

Kenangan itu jahat.

Semakin kau berusaha melupakannya, dia semakin nyata menyakiti jiwamu.

Bukan itu caranya.

Ia harus tetap ada namun diganti oleh kenangan yang lebih manis lagi seiring jalannya waktu.

Ricco Nicholas