Dia Bernama Ahok

Cerita saya bermula ketika mobil saya masuk ke bengkel akibat kecelakaan yang saya alami beberapa minggu yang lalu. Karena kerusakannya cukup parah, maka saya harus menunggu cukup lama sampai mobil saya seutuhnya diperbaiki. Hal ini mengakibatkan saya harus naik motor pribadi atau menggunakan transportasi umum untuk melanjutkan aktifitas saya sehari - hari. Biasanya saya naik motor pribadi atau menggunakan motor dengan mode transportasi berbasis aplikasi untuk membantu saya. Tapi jika perjalanan jauh, saya menggunakan transportasi taksi. 

Pada hari Minggu tanggal 13 Maret 2016 yang lalu, saya iseng ingin mencoba mobil dengan mode transportasi berbasis aplikasi. Saya belum pernah menggunakan layanan ini sebelumnya. Tapi karena penasaran, sayapun akhirnya menggunakan transportasi mobil ini untuk mengantar saya ke daerah Kelapa Gading karena perjalanan cukup jauh dari rumah saya. Ketika saya menunggu sebentar, akhirnya datang juga mobil yang saya tunggu. Saya disapa oleh seorang pemuda dengan ramah yaitu si pengemudi mobil. Saya tidak banyak bicara selama perjalanan dan dia pun demikian karena dia pun sudah melihat GPS untuk mengantar saya ke tujuan. Namun ketika sampai di pintu keluar tol Tanjung Priok, dia tiba - tiba berkata, “wah, disini sekarang juga sudah bagus ya pak. Rapih”. Saya hanya tersenyum tipis dan menjawab iya dengan canggung. Tapi dia tetap melanjutkan pembicaraannya, “Pak Ahok hebat ya pak. Kerjanya nyata sekarang Jakarta jadi lebih baik karena dia”. Topik yang dia buka ini memancing saya untuk berdiskusi dengan dia. Akhirnya saya pun juga bertanya, “Memangnya kamu teman ahok?”. Lalu dia menjawab dengan sangat mantap dan panjang, “Ya iya dong pak. Saya ini dukung Ahok seratus persen. Bukannya apa pak. Tapi saya tuh liat kerjanya dia itu nyata loh pak. Sekarang lebih rapi, sana sini dibetulin, banjir udah gak ada. Daerah rumah saya juga jadi lebih asri”. Lalu saya menjawab dengan sedikit memancing, “Tapi dia itu orangnya kasar loh. Suka ngomong sembarangan. Apalagi dia dari kaum minoritas, sepertinya sulit untuk memimpin Jakarta ini”. Lalu dia membela Ahok, “Iya pak, tapi kita butuh pemimpin seperti itu pak. Berani. Berani untuk membela kebenaran. Sama koruptor gak bisa pake cara halus pak. Memang harus gitu. Kalo saya pejabat, saya udah tembak mati kayaknya itu pak preman sama koruptor. Kita gak bisa lihat orang dari agamanya, sukunya, rasnya pak. Udah gak jaman begitu. Rakyat kecil kayak saya aja juga bisa lihat kok. Mata kita udah kebuka gitu loh pak. Udah gak bisa lagi ditipu dengan alasan ini itu”. Mendengar jawaban dia, saya pun tersenyum dan terharu. Saya cuman bisa berkata iya untuk menanggapi perkataan dia itu. Tapi di tengah keheningan saya, dia pun menyadari sesuatu dan bertanya kepada saya dengan takut, “Hmmm.. Bapak bukan pendukung Ahok ya pak. Bapak bukan teman ahok?” Saya tersenyum tipis dan berkata, “Saya teman Ahok seribu persen. Kamu sudah kasih KTP kamu untuk Ahok?”. Mendengar jawaban saya, dia lega dan menjawab kian mantap, “Sudah dong pak! Bahkan saya bantuk fotocopy formulir teman ahok dan bagikan ke semua kerabat saya”. 

Perbincangan dengan dia sangat membekas di hati saya hanya untuk 3 jam. Karena saya berpikir saya hanya akan bertemu dengan orang seperti ini 1 kali dalam hidup saya. Orang yang berani menyuarakan dukungan dia kepada seorang tokoh dengan orang asing. Saya yakin, orang seperti dia bukan hanya berani untuk menyuarakan dukungannya kepada Ahok kepada saya tapi juga kepada penumpang yang lain. Saya berpikir hanya dia orang yang seperti itu. Namun, saya salah.

Setelah urusan saya selesai di Kelapa Gading, saya pulang dengan mode transportasi yang sama namun dengan pengemudi yang berbeda. Dalam perjalanan pulang, dia menceritakan tentang Ahok yang juga dia anggap telah berhasil  memimpin Jakarta. Dan betapa berharapnya dia agar Ahok terpilih lagi. Dan topik tentang Ahok saya dengar hampir setiap kali saya naik mode transportasi umum hingga hari ini. Setiap supir membahas tentang Ahok dan bagaimana dia telah menyentuh kehidupan mereka masing - masing. Mulai membahas pembangunan infrastruktur, mode transportasi massal yang kian baik, banjir yang mulai tidak terlihat, pembangungan rusun, hingga penggusuran Kalijodo yang dianggap sangat berani. Saya juga mendengar bagaimana komitmen mereka untuk mendukung Ahok agar maju kembali di pilkada tahun depan. Bahkan, saya pernah naik mobil yang supirnya adalah pendukung setia Ahok tapi dia memiliki KTP Jawa Tengah. Dan yang dia lakukan adalah membantu di posko Ahok dan membagikan formulir ke setiap orang yang dikenalnya. Ada juga yang tidak bisa mendukung dan dia berkata bahwa setiap hari dia membawa Ahok dalam doanya. Saya kira dia adalah seorang Kristen seperti Ahok, namun dia menjawab bahwa dia adalah seorang muslim. 

Akhirnya saya mengerti bahwa mengapa Ahok harus paling tidak maju kembali dalam pilkada 2017. Ahok mungkin tidak menang pada pilkada 2017, tidak ada yang tahu. Tapi ini yang saya tahu, bahwa apabila Ahok sekalipun hanya maju dalam pilkada dan tidak menang, dia telah merubah banyak hal. Dia telah menciptakan sejarah baru bagi negeri ini. Banyak orang tionghoa khususnya para senior di lingkungan saya, ketika saya bertanya apakah telah memberi KTP untuk Ahok, mereka menjawab seperti ini, “Haduh, Ahok gak mungkin menang lah tanpa partai, punya musuh di dalam banyak banget, gak mungkin menang. Mendingan dia gak usah maju daripada maju abis itu kalah???”. 

Jawaban saya untuk mereka seperti ini: “Yang menentukan seorang pemimpin itu adalah Tuhan. Jika Tuhan menghendaki Ahok naik lagi sebagai gubernur, apapun tidak mungkin dapat menghentikannya. Tugas saya adalah melakukan bagian saya dengan sebaik mungkin agar dia bisa maju kembali"

 

Dia maju saja, akan merubah banyak hal. Majunya Ahok merupakan momentum:

- Momentum bahwa kita adalah negara demokrasi yang utuh

- Momentum dalam menunjukkan bahwa kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat bukan parpol

- Momentum menunjukkan bahwa Indonesia tidak dapat dipecahkan oleh isu SARA

- Momentum bahwa Bhinneka Tunggal Ika masih utuh kita perjuangkan

- Momentum bahwa siapapun dirimu, minoritas maupun mayoritas, kamu dapat berkontribusi bagi bangsa ini

- Momentum untuk mengajak para kaum tionghoa untuk tidak takut dalam mengambil bagian pemerintahan

- Momentum untuk menunjukkan rakyat tau mana tokoh yang bersih yang bisa mereka percaya

- dan masih banyak lagi.

 

Ahok bukanlah seorang yang sempurna. Dia punya banyak kelemahan. Tapi jika engkau mau menjadi pemimpin, yang paling penting bukanlah berapa jago kamu mengurus pekerjaan kamu, berapa tinggi prestasimu, berapa banyak penghargaan yang kamu raih. Yang paling penting dari seorang pemimpin adalah dapat dipercaya oleh rakyatnya. Jujur, bersih, berintegritas tinggi, berani. Itulah yang kita butuhkan saat ini. Jika memang Ahok nanti punya banyak kekurangan sana sini, itu adalah tugas kita segenap pendukungnya untuk mengawal, membantu dan berkontribusi untuk kota ini. Karena perubahan Jakarta tidak dapat dilakukan oleh satu orang pemimpin saja, tapi segenap masyarakat kota yang dipimpin oleh pemimpin yang dapat dipercaya oleh rakyatnya.

Ricco Nicholas